ARYA PENANGSANG
Arrial Thoriq Setyo Rifano
PENDAHULUAN
Alkisah, pada suatu malam, dua orang kecu menyelinap ke kraton Pajang.
Seorang di antaranya membawa sebuah pusaka. Ketika memasuki tempat
peristirahatan sultan, keduanya dihadang oleh makhluk halus buruk rupa dan
berukuran besar. Dengan pusaka tersebut, makhluk halus tersebut bisa dikalahkan
dan keduanya melenggang dengan mudah. Diputuskan agar salah satunya
berjaga-jaga di luar, sementara seorang lainnya yang membawa pusaka memasuki
kamar sultan. Di dalamnya sang sultan sedang tertidur. Misinya hampir berhasil.
Pusaka ditusukkan ke tubuh sang sultan. Sial, tubuh sang sultan berubah menjadi
guling dan si kecu terpental lantas
mutah darah karena kekuatan gaib sang sultan. Keduanya berhasil diringkus dan
setelah diselidiki ternyata pusaka yang akan digunakan untuk membunuh sultan
adalah Brongot Setan Kober, pusaka Bupati Jipang Arya Penangsang. Keduanya
diutus oleh Arya Penangsang untuk membunuh Sultan Pajang, Hadiwijaya alias Jaka
Tingkir. Meski begitu, keduanya tidak dihukum, malah dikembalikan dengan
selamat ke Jipang dan diberikan hadiah berupa barang-barang berharga, wujud
belas kasihan sang sultan sekaligus upaya mempermalukan Arya Penangsang.
Sekelumit kisah tersebut merupakan babak
awal dari pergelaran kethoprak “Harya Penangsang” yang dipentaskan oleh
Keluarga Kesenian Jawa RRI Yogyakarta pada tanggal 21 Agustus 2024. Arya Penangsang
dikisahkan berusaha merebut kekuasaan yang seharusnya menjadi miliknya namun
jatuh ke tangan orang lain. Segala tipu daya dan cara keji dilakukannya. Bahkan
dengan keberpihakan Sunan Kudus, ia tak mampu merubah takdirnya. Dalam
pertempuran penghabisan, ia terluka karena tusukan Tombak Kyai Pleret sehingga
ususnya terburai. Ia dapat bertahan dan melilitkan ususnya pada sebilah keris
yang dibawanya. Nahas, karena merasa musuhnya sudah tak berdaya, ia menaris
keris yang melilit ususnya. Ususnya terputus dan Arya Penangsang Bupati Jipang
tewas di hadapan anak muda yang kelak memegang tampuk kekuasaan tanah Jawa,
Danang Sutawijaya.
JAKA
TINGKIR DAN ARYA PENANGSANG DALAM KONTEKS HISTORIS
Pada pertengahan kedua abad XVI, muncul
kekuatan baru di wilayah pedalaman Jawa Tengah, yaitu Pajang. Daerah Pajang
merupakan daerah pertanian yang sangat subur. Dalam tradisi sejarah Jawa,
Pajang dianggap sebagai pengganti berikutnya dalam garis legitimasi yang mengalir
dari Majapahit melalui Demak. Pada abad XV sebuah negara Hindu bayangan yang
disebut Pengging, yang tidak memiliki satu pun bukti yang dapat dipercaya,
terletak di wilayah Pajang. Menurut beberapa tradisi, Sunan Kudus berhasil
menaklukkan daerah ini atas nama Islam, yang mungkin terjadi pada tahun
1530-an. Dongeng-dongeng menyebutkan bahwa seorang menantu laki-laki Sultan
Trenggana dari Demak yang bernama Jaka Tingkir, yang berasal dari keturunan
Pengging dan banyak dipertalikan dengan cerita-cerita gaib, diutus untuk
memerintah Pajang sebagai bawahan Demak. Sesudah Trenggana meninggal (1546),
Jaka Tingkir memperluas kekuasaannya di Jawa Tengah. (Ricklefs,
1999) Ia
kemudian memindahkan pusaka-pusaka Demak ke Pajang, mengganti namanya menjadi
Sultan Hadiwijaya, dan menggantikan kedudukan Sultan Demak sebagai pemimpin
kerajaan-kerajaan Islam di seluruh Jawa yang disahkan dengan suatu upacara yang
dilakukan oleh Sunan Giri. (Koentjaraningrat,
1994)
Jaka Tingkir adalah putra Kebo Kenanga
alias Ki Ageng Pengging, cucu bupati Jayaningrat di Pengging. Jayaningrat
adalah bupati bekas wilayah kerajaan Majapahit di Pengging dan menantu raja
Majapahit Prabu Wikramawardhana. Jayaningrat adalah ipar Arya Damar di
Palembang. Jayaningrat tetap setia kepada Majapahit. Meskipun Kebo Kenanga
alias Ki Ageng Pengging masuk Islam, namun dia segan tunduk kepada sultan
Demak. Ki Ageng Pengging dibunuh oleh Sunan Kudus yang merupakan utusan sultan
Demak. Ketika Ki Ageng Pengging mangkat, Jaka Tingkir masih kecil. Nama kecil Jaka
Tingkir adalah Mas Karebet. Nama tersebut diberikan karena dia lahir pada saat
Ki Ageng Pengging sedang menanggap wayang Beber. Dia kemudian dipungut oleh
janda Ki Ageng Tingkir, saudara sepupu Ki Ageng Pengging. Karena dibesarkan di
Desa Tingkir oleh janda Ki Ageng Tingkir, sehingga menyebabkan dia dikenal
sebagai Jaka Tingkir. Setelah dewasa, Jaka tingkir mengabdi pada sultan Demak
yang ketiga, yaitu Sultan Trenggana. (Muljana,
2006)
Berkat kecakapan dan kebagusan rupanya,
Jaka Tingkir dijadikan lurah prajurit tamtama dan diaku sebagai putra pungut
sultan. Ia diizinkan keluar masuk istana. Keperwiraannya luar biasa. Selama
mengabdi pada sultan, ia satu kali membuat kesalahan besar, yaitu membunuh
Dadung Awuk dari Kedu yang berniat masuk prajurit tamtama. Dadung Awuk terkenal
keperwiraannya, tetapi rupanya jelek. Rupa yang jelek itu menimbulkan rasa
tidak senang pada Jaka Tingkir. Akibat kesalahan itu, Jaka Tingkir dipecat dari
jabatannya lalu mengembara, Namun, kemudian dia berhasil kembali mengabdi di
Demak dan akhirnya diambil menantu oleh Sultan Trenggana. (Muljana,
2006)
Dalam Babad Tanah Jawi, diceritakan bahwa
setelah Arya Penangsang berhasil membunuh Sunan Prawata, ia berhasil pula
membunuh Pangeran Kalinyamat, ipar Sunan Prawata. Pangeran Kalinyamat membela
kematian iparnya. Sebagai protes terhadap kelakuan Arya Penangsang, janda
Pangeran Kalinyamat, Ratu Kalinyamat, bertapa telanjang di Gunung Danaraja. Ia
tidak akan berhenti bertapa sebelum Arya Penangsang berhasil dibunuh. Ratu
Kalinyamat mengadakan sayembara, barang siapa dapat membunuh Arya Penangsang,
akan menerima segala harta benda miliknya, daerah Prawata dan Kalinyamat. Ratu Kalinyamat sanggup menyerahkan dirinya kepadanya. Kabar itu didengar oleh Jaka
Tingkir. Karena Ratu Kalinyamat adalah iparnya, maka Jaka Tingkir sanggup
membalaskan kematian Pangeran Kalinyamat. Demikianlah, Jaka Tingkir menantang
Arya Penangsang. Dengan bantuan Ki Ageng Pemanahan dan Ki Ageng Panjawi, Jaka
Tingkir berhasil membunuh Arya Penangsang. Sebagai hadiah, Ki Ageng Panjawi
mendapat daerah Pati, sementara Ki Ageng Pemanahan memperoleh daerah Mataram. (Muljana,
2006)
KEHENDAK
UNTUK BERKUASA
Jaka Tingkir berhasil meredakan ketegangan
dalam istana Demak sesudah sultan meninggal dan membunuh saingannya, Arya
Penangsang, dalam suatu peperangan. (Koentjaraningrat,
1994)
Pertanyaannya, apakah motif Arya Penangsang untuk merebut kekuasaan?
Raden Patah, Sultan Demak pertama,
mempunyai beberapa putra dan putri yang lahir dari tiga ibu. Adipati Yunus dan
Trenggana lahir dari cucu perempuan Sunan Ngampel, Kanduruwan lahir dari putri
Randu Sanga, dan Raden Kikin alias Pangeran Seda Lepen lahir dari putri adipati
Jipang. Keturunan lainnya adalah Ratu Mas Nyawa. Penobatan Adipati Yunus
sebagai pengganti Raden Patah tidak mengalami kesulitan karena ia adalah putra
mahkota sulung. Tetapi, setelah Adipati Yunus meninggal pada tahun 1521 tanpa
meninggalkan putra, timbul sengketa di antara saudara laki-lakinya. Para putra
Raden Patah mulai berebut kekuasaan. Raden Kikin alias Pangeran Sedan Lepen
lebih tua daripada Trenggana, tetapi ia lahir dari istri ketiga, sedangkan
Trenggana lahir dari istri pertama. Dalam Babad Tanah Jawi dinyatakan bahwa putra
Sultan Trenggana yang bernama Sunan Prawata membunuh Pangeran Seda Lepen, ayah
Arya Penangsang. Dengan terbunuhnya Pangeran Seda Lepen, maka Pangeran
Trenggana dapat menguasai tahta kesultanan Demak. Sepeninggal Sultan Trenggana,
Sunan Prawata naik tahta sebagai penggantinya, karena ia adalah putra sulung. (Muljana,
2006) Konon,
Sunan Prawata dan istrinya dibunuh atas perintah Arya Penangsang sebagai bentuk
balas dendam atas kematian ayahnya yang dibunuh atas perintah Sunan Prawata. Ia
juga yang mengusahakan kematian Pangeran Kalinyamat yang karena perkawinan
masih mempunyai hubungan keluarga dengan Sunan Prawata. Ia juga merencanakan
pembunuhan terhadap Jaka Tingkir yang dianggap menghalang-halangi ambisinya. (De
Graaf & Pigeaud, 1985)
Selain untuk membalaskan dendam atas
kematian ayahnya, mungkin juga Arya Penangsang menganggap dirinya berwenang
menduduki tahta Demak. Tetapi rupanya ia kemudian dikalahkan dan dibunuh dalam
pertempuran melawan pasukan Jaka Tingkir. Jaka Tingkir bertindak sebagai
pembalas dendam antara lain atas kematian Pangeran Kalinyamat, ipar Sunan
Prawata, yang telah menemui ajalnya karena ulah Arya Penangsang. Arya
Penangsang masih hidup dalam cerita-cerita rakyat setempat. (De
Graaf & Pigeaud, 1985) Peristiwa
peperangan antara Jaka Tingkir dan Arya Penangsang telah menjadi cerita rakyat
yang sangat digemari dan kemudian sering dipentaskan dalam kesenian kethoprak
di Jawa. (Koentjaraningrat,
1994)
Bertrand Russell
(2019),
filsuf Inggris, menyatakan bahwa antara manusia dan binatang ada banyak
perbedaan, beberapa di antaranya menyangkut kecerdasan dan emosi. Salah satu
perbedaan emosi adalah bahwa keinginan manusia pada hakikatnya tidak terbatas
dan tidak mungkin bisa dipuaskan sepenuhnya. Jika binatang puas dengan
keberadaan dan reproduksinya saja, manusia ingin terus berkembang. Di antara
hasrat dan keinginan manusia yang tidak berhingga itu, yang paling penting
adalah hasrat untuk meraih kekuasaan. Daya “Kehendak-untuk-Berkuasa” oleh
Nietzsche dianggap sebagai gairah hidup yang paling primordial bukan hanya
dalam diri manusia, melainkan di dalam seluruh realitas. Dalam bukunya yang
direncanakan akan menjadi karya sistematis, Der
Wille zur Macht, Nietzsche memberikan sebuah pernyataan yang dapat
menjelaskan apa yang dimaksudkannya. Tulisnya: “Dunia ini adalah Kehendak-untuk-Berkuasa–dan
tak lebih dari itu!” (Hardiman,
2019)
Apabila motif balas dendam Arya Penangsang
dikesampingkan, maka kehendak-untuk-berkuasa-nya didasari atas pandangan bahwa
ia adalah orang yang seharusnya menduduki tahta Demak karena ia adalah cucu
Raden Patah dari salah satu putra tertuanya. Sementara Sultan Trenggana (termasuk
keturunannya) tidak berhak menduduki tahta karena bukan merupakan putra tertua.
Jaka Tingkir sendiri memiliki kehendak-untuk-berkuasa mengatasi kondisi
kerajaan yang carut marut sekaligus mengembalikan harmoni yang dirusak oleh kelakuan
Arya Penangsang atas dasar mandat dari adik sultan sebelumnya. Keduanya
sama-sama memiliki kehendak-untuk-berkuasa yang saling menegasikan satu sama
lain.
Menurut Russell
(2019),
setiap orang ingin menjadi Tuhan jika memungkinkan, tentunya tidak dalam artian
teologis. Inilah orang-orang yang terbentuk dari gabungan antara kemuliaan dan
ketidaksalehan. Ketidaksalehan di sini adalah sikap tidak mau mengakui
keterbatasan manusia. Kombinasi antara kemuliaan dan ketidaksalehan paling
kentara pada diri para penakluk besar, namun beberapa unsurnya terdapat pada
diri semua orang. Inilah yang membuat kerja sama sosial menjadi sulit, oleh
karena yang terbayangkan adalah pola kerja antara Tuhan dan para pemuja-Nya.
Salah satu pihak adalah yang berkuasa, sementara pihak yang lain adalah yang
dikuasai. Maka lahirlah persaingan dan dorongan untuk memberontak yang disertai
dengan ketidakstabilan dan kekerasan. Itulah kenapa diperlukan moralitas untuk
mengekang nafsu sekehendak hati. Moralitas itulah yang dikangkangi oleh Arya
Penangsang dalam usahanya merebut kekuasaan.
KEKUASAAN
DALAM BUDAYA JAWA
Sumber legitimasi kerajaan di Jawa adalah
tradisi. Kriteria legitimasi kekuasaan raja dianggap berasal dari sumber-sumber
supranatural atau non-sekuler. Menurut tradisi Jawa sejak zaman kuno sampai
Mataram Islam, salah satu bentuk legitimasi adalah wahyu keraton, cahaya nubuwat
atau pulung yang diterima oleh para
pendiri dinasti, seperti Ken Arok dan Raden Patah. Oleh karena itu, raja secara
pribadi dapat bertindak dengan cara khusus kemudian menetapkan dirinya dalam
suatu pola peran serta menyatakannya sebagai tindakan yang direstui nenek
moyang atau Tuhan. Dengan demikian kedudukan raja menjadi sangat sentral dan mutlak.
Meskipun tidak secara langsung, dalam hubungan ini kedudukan raja menggunakan
konsep “kultus dewa raja” dari zaman Hindu namun unsur-unsurnya masih tampak
berpengaruh kuat. Kuatnya pengaruh sisa-sisa konsep “kultus dewa raja”
tercermin pada fakta bahwa raja membentuk citra diri sebagai raja binanthara (raja berwatak dewa).
Konsep tersebut tampak dalam ungkapan yang menyatakan bahwa raja adalah raja gung binanthara, baudhendha, nyakrawati, berbudi bawa
leksana, dan ambeg adil parama arta.
Ungkapan itu memiliki dimensi gung
binanthara yang berarti pedoman bagi seorang raja untuk melaksanakan
kekuasaannya. (Kasdi,
2003)
Dalam sistem kepemimpinan tradisional
Jawa, seorang raja sebagai pemimpin negara atau kerajaan memiliki unsur-unsur
di atas. Dia juga harus memiliki empat unsur lainnya, yaitu sakti, mandraguna, mukti, dan wibawa. Sakti berarti memiliki kekuatan gaib atau supranatural, mandraguna berarti cakap dalam segala
bidang, mukti berarti memiliki
kedudukan penuh sejahtera, dan wibawa
berarti memiliki pengaruh besar. Anderson (dalam
Kasdi, 2003)
menyatakan bahwa menurut pandangan orang Jawa, kekuasaan itu memiliki
sifat-sifat sebagai berikut: (1) konkret, terlepas dari pemakainya dan terwujud
dalam setiap aspek dunia alami; (2) jenis dan sumber kekuasaan adalah sama atau
homogen, yaitu kesaktian; (3) jumlahnya tetap; dan (4) tidak memerlukan
keabsahan. Pendapat tersebut dibantah oleh Koentjaraningrat (dalam
Kasdi, 2003) yang
menyatakan bahwa kekuasaan raja-raja Jawa tradisional tidak cukup hanya
mengandalkan keempat unsur kekuasaan yang sederhana itu. Kekuasaan tradisional,
seperti di Jawa pada abad XIV, terdiri dari unsur-unsur: (1) kharisma yang
berasal dari Tuhan; (2) wewenang karena memiliki kesaktian, genealogi, regalia,
dan mampu melaksanakan upacara intensifikasi; (3) kewibawaan atau adanya
sifat-sifat yang sesuai dengan cita-cita dan keyakinan masyarakat; dan (4)
kemampuan dan kecakapan untuk mengorganisasikan dan mengerahkan kekuatan fisik
berdasarkan sistem sanksi guna mencapai suatu tujuan.
Menurut kepercayaan orang Jawa, sumber
utama untuk melaksanakan pedoman tersebut adalah kebijaksanaan (kawicaksanan). Salah satu sumber kebijaksanaan seorang raja adalah
kepemimpinan yang berdasarkan ajaran Asta
Brata atau delapan asas laku utama yang harus dilaksanakan oleh seorang
raja. Moertono (dalam
Kasdi, 2003)
menjelaskan bahwa menurut ajaran Asta
Brata, seorang raja harus memiliki sifat-sifat: (1) kedermawanan (Indra); (2) tegas dalam memberantas
kejahatan (Yama); (3) ramah tamah (Surya); (4) kasih sayang (Candra); (5) teliti (Bayu); (6) pemberi kegembiraan (Brahma); (7) cerdas (Baruna); dan (8) pemberi keberanian (Brahma).
Arya Penangsang secara genealogis mungkin lebih
berhak atas tahta Demak dibanding paman atau saudara sepupunya, apalagi Jaka
Tingkir. Namun pada akhirnya ia gagal meskipun dirinya telah didukung oleh
Sunan Kudus, salah satu Wali Songo.
Jaka Tingkir sejak awal dianggap telah memperoleh legitimasi untuk menduduki
tahta Demak meskipun ia hanya menantu sultan. Pulung Demak telah berpindah kepada dirinya sehingga kelak ia akan
menggantikan sultan Demak. Pengabdiannya kepada sultan dianggap sebagai bentuk
yang wajar untuk memuluskan jalannya menjadi raja. Untuk itu ia harus mendapat
cinta kasih sultan dan banyak memperoleh nasehat tentang laku yang nista dan
utama. (Purwadi,
2008; Wahyudi, 2010)
Di samping itu, Arya Penangsang tidak
menunjukkan sikap kawicaksanan dalam
kontestasi perebutan kekuasaan. Arya Penangsang sibuk melampiaskan dendam
terhadap semua kerabat yang dianggap terlibat menghabisi ayahnya. Tindakannya
mengutus kecu untuk membunuh Jaka
Tingkir juga tidak wicaksana, karena
meskipun Brongot Setan Kober merupakan pusaka yang ampuh, konon tidak akan
mempan digunakan jika pemakainya kalah wibawa dibandingkan sang target.
Seharusnya Arya Penangsang sendirilah yang membunuh Jaka Tingkir menggunakan
pusaka tersebut. Saat Sunan Kudus mengatur jebakan Rajah Kala Cakra agar Jaka
Tingkir kehilangan kesaktiannya, justru kesaktian Arya Penangsang yang hilang
akibat menduduki jebakan yang telah disiapkan. Untuk mengatasi tulah tersebut,
Arya Penangsang harus bertirakat selama 40 hari 40 malam. Pada hari ke-40,
pasukan Pajang justru menyerang Jipang sehingga membuat Arya Penangsang
kelihangan kesabarannya. Ia pun tewas karena amarahnya sendiri. Sikap tidak wicaksana inilah yang membuat Arya
Penangsang gagal mewujudkan ambisinya untuk menjadi raja. Sebagai dampak
budaya, pengantin pria Jawa menggunakan keris yang diberi untaian melati
sebagai aksesoris busana dengan harapan agar ia menjadi suami yang wicaksana, tidak seperti Arya Penangsang
yang kerisnya dibelit untaian ususnya sendiri. (Nurhamid,
2009)
Madiun, 27 Maret 2026
DAFTAR
BACAAN
De
Graaf, H. J., & Pigeaud, T. G. T. (1985). Kerajaan-Kerajaan Islam di
Jawa: Peralihan dari Majapahit ke Mataram. Jakarta: Grafiti Pers.
Hardiman,
F. B. (2019). Pemikiran Modern Dari Machiavelli sampai Nietzsche. Sleman:
Kanisius.
Kasdi,
A. (2003). Perlawanan Penguasa Madura atas Hegemoni Jawa: Relasi
Pusat-Daerah pada Periode Akhir Mataram (1726-1745). Yogyakarta: Jendela.
Koentjaraningrat.
(1994). Kebudayaan Jawa. Jakarta: Balai Pustaka.
Muljana,
S. (2006). Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam
di Nusantara. Yogyakarta: LKiS.
Nurhamid,
A. (2009). Arya Penangsang Gugur: Antara Hak dan Pulung Kraton Demak Bintara. Dinamika
Bahasa dan Budaya, 3(2), 105–115.
https://doi.org/10.35315/bb.v3i2.445
Purwadi.
(2008). Kraton Pajang: Titik Temu Dinasti Besar Kerajaan Jawa yang Menempuh
Jalan Spiritual, Intelektual, Sosial, dan Kultural. Yogyakarta: Panji
Pustaka.
Ricklefs,
M. C. (1999). Sejarah Indonesia Modern (D. Hardjowidjono, Penerj.). Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press.
Russell,
B. (2019). Kekuasaan: Sebuah Analisis Sosial dan Politik (H. Basari,
Penerj.). Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
Wahyudi, A. (2010). Joko Tingkir: Berjuang Demi Takhta Pajang. Yogyakarta: Narasi.
Komentar
Posting Komentar