RESENSI BUKU "SELENDANG KUNING"

 Oleh:
Arrial Thoriq Setyo Rifano



Judul Buku

:

Selendang Kuning (Cerita Kepahlawanan Cut Nyak Dien dari Aceh)

Penulis

:

Pak Soet

Penerbit

:

Tiga Serangkai

Tahun Terbit

:

1985

Halaman

:

48 halaman


Anak-anak perlu disajikan buku-buku bacaan ringan yang berhubungan dengan perjuangan para pahlawan. Hal tersebut penting untuk membangkitkan dan menggugah rasa patriotisme dan nasionalisme anak-anak di tengah erosi patriotisme dan kesadaran berbangsa. Salah satu bacaan anak-anak yang menarik berkaitan dengan perjuangan para pahlawan adalah buku berjudul Selendang Kuning (Cerita Kepahlawanan Cut Nyak Dien dari Aceh). Meskipun diterbitkan empat puluh tahun yang lalu, buku ini tetap menarik untuk dibaca karena mengisahkan perjuangan seorang pahlawan perempuan yang tak lekang oleh jaman.

Buku ini terbagi menjadi tiga bab. Bab pertama, yaitu Teuku Syeh Gugur, mengisahkan awal mula perjuangan melawan Belanda dan gugurnya Teuku Syeh, suami Cut Nyak Dien, yang menjadi pemicu semangat perjuangan Cut Nyak Dien. Bab ini juga menyoroti taktik perang gerilya rakyat Aceh dan kekejaman tentara Belanda. Selendang kuning yang menjadi judul buku ini merujuk pada kisah Teuku Syeh yang memimpin pertempuran melawan Belanda menggunakan selendang kuning lantas gugur, namun perjuangannya diteruskan oleh Cut Nyak Dien. Teuku Syeh sendiri sebenarnya merupakan gelar yang diberikan kepada suami Cut Nyak Dien yang bernama asli Teuku Ibrahim. Teuku Syeh berarti pemimpin. (Lulofs, 2017, hlm. 89) Bab dua, Cut Nyak Dien Srikandi Aceh, menggambarkan bagaimana Cut Nyak Dien mengambil alih kepemimpinan setelah suaminya gugur, menunjukkan keberanian dan tekadnya sebagai seorang pemimpin perang. Musyawarah dengan para panglima, termasuk Teuku Umar, yang kemudian menjadi suami Cut Nyak Dien, dan Panglima Polem, juga disajikan. Bab ini menunjukkan peran penting wanita Aceh dalam perjuangan. Mengenai bolehnya perempuan memimpin, menurut Hasjmy (1977, hlm. 23–24), Aceh telah memberi kepada perempuan hak dan kewajiban yang sama dengan laki-laki berdasarkan dalil-dalil Al-Quran, hadits, dan pendapat para ulama. Perempuan berhak memegang jabatan asalkan sanggup dan mempunyai pengetahuan untuk bidang-bidang jabatan yang akan dipegangnya, sama seperti hak pria dalam hal tersebut. Bab terakhir, Selendang Kuning, Semangat Perjuangan, menggambarkan puncak pertempuran dan strategi yang digunakan oleh Cut Nyak Dien dan pasukannya untuk melawan Belanda. Selendang kuning menjadi simbol semangat perjuangan yang tak kenal menyerah. Yang patut dicatat dari Perang Aceh sebagaimana pendapat der Maaten (1978, hlm. 3 dan 13) adalah bahwa setiap laki-laki, perempuan, dan anak-anak menjadi musuh Belanda dalam perang tersebut. Seluruh rakyat Aceh mengambil bagian, baik aktif maupun pasif.

Cut Nyak Dien sampai usia lanjut dan renta masih bergerilya di hutan-hutan. Meskipun kesehatannya begitu rapuh akibat penderitaan yang panjang, tetapi semangatnya tidak pernah luntur dan wibawanya masih tegak. Ia menjadi salah satu contoh dari figur pahlawan perempuan dari ribuan pejuang perempuan Aceh. (“Pengantar Penerbit,” 1985, hlm. viii–ix) Cut Nyak Dien ditangkap Belanda pada tanggal 4 November 1905 akibat pengkhianatan yang dilakukan oleh salah seorang panglimanya. Cut Nyak Dien kemudian dibuang ke Sumedang dan meninggal di sana pada 6 November 1908. (Alfian, 1987, hlm. 212)

Buku ini disajikan dalam bentuk narasi yang mudah dipahami, cocok untuk pembaca anak-anak. Cerita disampaikan dengan alur yang jelas, menggambarkan konflik, keberanian, dan pengorbanan para pahlawan, terutama Cut Nyak Dien. Penggunaan dialog membuat cerita lebih hidup dan karakter terasa lebih nyata. Buku ini menekankan pentingnya patriotisme, nasionalisme, dan semangat pantang menyerah dalam membela tanah air, serta menanamkan nilai-nilai luhur seperti keberanian, pengorbanan, budi pekerti, penghormatan terhadap sesama, dan kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan. Buku ini juga menyoroti pentingnya persatuan dan kesatuan, serta bagaimana kecerdasan dan taktik dapat mengalahkan kekuatan yang lebih besar. Peran perempuan dalam perjuangan kemerdekaan ditonjolkan melalui karakter Cut Nyak Dien. Selendang Kuning menjadi buku cerita kepahlawanan yang inspiratif, terutama bagi anak-anak dan relevan untuk menumbuhkan jiwa patriotisme sejak dini.

Madiun, 20 Juli 2025

 

Daftar Bacaan

Alfian, I. (1987). Perang di Jalan Allah: Perang Aceh 1873-1912. Pustaka Sinar Harapan.

der Maaten, K. V. (1978). Watak Berperang Bangsa Indonesia Berbagai-bagai Daerah (Suatu Perbandingan) (A. Bakar, Penerj.). Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh.

Hasjmy, A. (1977). 59 Tahun Aceh Merdeka di bawah Pemerintahan Ratu. Bulan Bintang.

Lulofs, M. H. S. (2017). Cut Nyak Din: Kisah Ratu Perang Aceh (Tim Penerjemah Komunitas Bambu, Penerj.). Komunitas Bambu.

Pengantar Penerbit. (1985). Dalam Aceh Sepanjang Abad Jilid Kedua (hlm. vii–ix). P.T.Harian Waspada.


Komentar

Postingan Populer